Thursday, August 12, 2010

Buatmu Anakku...!!!



Buatmu Sayang...!!!
begitulah adanya kamu tercipta anakku. Kamu adalah rahasia alam dari protein yang hidup dalam testisku, menyembur keluar dalam gegap gempita sukacita, yang berenang seperti seekor ikan pari dan membuahi telur dalam perut Ibumu.
Hanya kamu yang selamat dari ribuan kecebong sperma saudaramu. Hanya kamu yang berhasil melewati lorong-lorong sempit dengan racun basa yang mematikan dalam falopi Ibumu.
Kamu adalah keajaiban.
Kamu terlahir anakku, dari sukacita yang mendalam. Kamu bukanlah Karna yang dibuang oleh Kunti dalam riak sungai Yamuna. Yang tidak pernah mendapat pengakuan, bahkan sejak udara pertama melewati parunya. Seorang Resi bernama Druwarsa waktu itu bahkan telah membantu si Kunti melahirkan Karna lewat telinga, hanya karena Kunti lebih menghargai kesucian selaput diantara selangkangannya daripada sesosok kehidupan bernama Karna.
Ketika kamu masih dalam rahim Ibumu, tahukah kamu nak akan kegundahan hatiku ?
Cintaku kepada Ibumu tulus anakku. Bukan seperti birahi Arjuna yang memanfaatkan ketakutan Anggraini dikejar raksana di Rimba Kamiaka. Bahkan melebihi epos Rama dan Sinta. Bukankah Rama meragukan kesucian Sinta ketika justru ia berhasil merebutnya dari sekapan Rahwana ??
Aku susah sekali mencari padanannya. Bukankah tidak ada cinta kasih yang melegenda dengan happy ending ? Bukankah Juliet menengguk racun kematian untuk bersatu dengan Romeo ? Bukankah Eng Tay menjemput ajal untuk menemui Sam Pek ??
Aku tidak tahu apakah arti cinta itu. Tapi aku berkata kepadamu ; kelak, suatu saat nanti, seluruh pengetahuan yang kamu miliki tidak akan pernah bisa menterjemahkan cinta dalam bahasa kata-kata. Tapi tubuhmu, otakmu dan hatimu akan merasakan cinta yang sesungguhnya.
Anakku, aku bersyukur karena bisa mendampingi Ibumu ketika melahirkan engkau. Memegangi kedua tangannya, menghiburnya, membuatnya tertawa – meski tidak bisa – untuk menjauhkan semua perhatian dari sakit diperutnya. Aku tahu bahwa yang aku lakukan tidak akan berpengaruh apapun untuk memperingan sakitnya, tapi setidaknya, semoga, Ibumu terhibur dan sejenak melupakan apa yang tengah dia alami.
Dia perempuan yang hebat. Delapan jam yang melelahkan dan tak satupun air mata keluar dari wajahnya. Aku iri padanya. Sekarang aku tahu, Tuhan telah menyatukan kami supaya aku belajar padanya untuk menghadapi sulitnya kehidupan dengan tabah
Ibumu adalah tulang rusuk yang kuat. Yang tak retak ketika dibenturkan ke karang dan yang tak hancur digilas bebatuan. Apakah dia berasal dari igaku yang rapuh ?
Anakku, ketika kamu masih melayang dalam ketuban ibumu, dengarkah engkau akan suaraku ? sampaikah ciumanku lewat perut Ibumu kepadamu ? hanya dinding kulit tipis yang memisahkan kita, tapi hatiku sudah rindu untuk menimangmu.
Menendanglah dengan kuat, karena kami berdua menantikan itu. Jangan sungkan untuk menggeliat, karena kami berdua menantikan itu.
Ibumu telah menebus karma terbesar dalam kehidupannya dengan melahirkanmu. Meregang nyawa antara hidup dan mati. Terjaga dalam ambang kesadaran. Merasakan kesakitan terbesar dalam sejarah kehidupannya. Cukupkah aku memberikan cinta untuk meringankan deritanya ??? Tidak ! Tapi ia mempunyai banyak cinta untuk melahirkanmu kedunia.
Suatu saat nanti anakku, pesanku padamu ; ucapkanlah terimakasih kepada Ibumu atas semua perjuangan yang telah ia lakukan.
Dan tahukah kamu anakku, karma yang Tuhan berikan kepadaku ? meninggalkan kalian berdua – dua orang yang paling aku cintai, untuk bekerja. Membayangkan wajah kecilmu disela-sela rutinitas harianku. Membayangkan betapa sibuknya kalian berdua mengisi hari ini, sementara aku disini menatap rindu foto bayimu.
Barangkali memang tidak seimbang dengan perngorbanan yang telah ibumu berikan, akupun sering bertanya demikian kepada alam. Tetapi seandainya saja aku bisa mengambil sebagian dari apa yang Ibumu derita, aku akan melakukannya, anakku.
Kami berdua sering melamunkan wajah mungilmu Dan mengkhayalkan bentukmu nantinya. Barangkali engkau akan mewarisi alis ibumu, atau mungkin mulut milikku. Namun diluar itu, sesungguhnya kamu adalah bentuk yang baru. Kami berdua hanyalah orang yang beruntung karena Sang pemberi kehidupan telah mempercayakan ciptaannya yang indah – yaitu kamu – kepada kami.
Anakku, kalau kamu sudah dewasa dan memiliki kehidupanmu sendiri, mungkin kamu akan mulai melupakanku, tetapi satu pintaku; Jangan Lupakan Ibumu !
Untuk setiap tetes air kehidupan yang mengalir dari dada Ibumu, – yang engkau hisap dari mulut kecilmu, untuk setiap detik waktu yang ia sisihkan untuk menenangkanmu saat terjaga ditengah malam, atau untuk setiap kasih sayang yang ia berikan saat menyuapimu, aku mohon jangan lupakan dia. Aku tahu ibumu tak akan meminta apa-apa daripadamu, ia mencintaimu lebih daripada siapapun di dunia ini, permintaan ini tulus datang dari aku, ayahmu.
Suatu saat nanti, kamu akan belajar anakku. Bahwa kehidupan sesungguhnya tidak pernah berpihak kepada siapapun. Namun aku bersyukur karena kehidupan telah begitu bermurah hati memberiku kesempatan untuk melihatmu lahir kedunia
Terkadang aku iri kepada kalian, kepada ibumu yang dengan mudah meninabobokkanmu ketika rewel, yang hanya dengan suara merdu ibumu dapat membuatmu terlelap, seandainya aku bisa … tapi tahukah kamu, betapa bangganya diriku ketika suatu saat kamu terlelap dalam pengkuanku ??
Kuceritakan kepadamu mengenai tiga buah rahasia kebahagiaan dalam hidupku yang membuatku lengkap menjadi seorang ayah :
Kebahagiaan pertama ; ketika aku dan ibumu menikah.
Memulai kehidupan bersama dalam kesederhanaan berumah tangga. Apa yang kami miliki ? tidak ada, selain Cinta. Bagimu mungkin terlalu klise aku berkata demikian, tapi untuk setiap cinta yang aku lalui dengan ibumu, masing-masing mempunyai makna mendalam. Ibumu seperti pegangan dalam hidupku. Ia menjadi air yang dingin ketika emosiku meledak, dan ia menjadi suluh ketika aku berada dalam kegelapan. Dan ia memberikan sukacita yang mendalam ketika memberikan kamu, anakku – satu hal yang hingga kapanpun tak akan dapat aku berikan gantinya hingga ajalku nanti.
Kebahagiaan kedua ; ketika kamu lahir kedunia.
Apakah yang dapat aku sangkal tentang ini ? kukatakan kepada semua orang bahwa malam itu tanggal empat September dua ribu satu pukul sebelas malam lebih empat menit kamu telah lahir ke dunia. Dalam guyuran keringat dan jeritan tertahan ibumu, aku tahu, kalau engkaupun berjuang saat itu untuk keluar dari rahim yang sudah tidak mampu lagi memuat tubuhmu. Kamu adalah keajaiban. Tubuhmu begitu kecil, terbungkus dalam lendir ketuban. Tangismu memecah kesunyian malam. Dan Ibumu, tahukah kamu apakah yang dia rasakan ? Ia melupakan semua kelelahan setelah berjuang lebih dari delapan jam untuk melahirkanmu. Ia tersenyum bahagia untukmu. Dan ia juga tersenyum bahagia untukku.
Kebahagiaan ketiga ; ketika melihatmu dewasa nanti, memiliki seseorang yang istri mencintaimu, dan menjadi seorang ayah seperti aku. Sungguh, saat itu aku akan tersenyum kepada diriku dan kukatakan terimakasih kepada Tuhan yang sebesar-besarnya karena Dia telah memberiku yang terbaik.
Dalam beberapa hal kami kadang memang berselisih paham, dan dia akan diam – aku menyesal telah memberi contoh yang jelek kepadanya dengan diam ketika marah – namun aku selalu rindu akan suaranya. Aku mencarinya ke setiap sudut rumah kita, sampai akhirnya ia memulai berbicara, “mencari apa ?!” dan aku katakan dengan senang aku telah menemukan suara Ibumu yang merdu.
Ketika umurmu menjelang dewasa nanti, kamu akan sadar betapa singkatnya hidup ini betapa tidak adilnya Tuhan memberi waktu yang pendek tanpa memberi kesempatan kepada kita untuk berterimakasih kepada orang-orang yang telah mencintai kita.
Karena itu, pesanku; nikmatilah semua masa-mu dengan sukacita. Sebab ketika kamu memutuskan mempunyai anak nanti, tugasmu adalah menyiapkan jalan kebahagiaan untuknya. Jangan takut untuk menjadi seorang ayah, karena kamu dilahirkan untuk jadi itu. Dan jangan ragu-ragu akan kehidupanmu, karena Sang Pembuat Kehidupan selalu mempunyai rencana yang terbaik untukmu.
Akhirnya anakku, doakan kami, ayah dan ibumu, melalui bahasa dan kata -katamu yang masih sederhana kepada Sang Pembuat Kehidupan, supaya kami selalu dapat mendampingimu dan memberikan kehidupan yang layak untukmu. Biarkan peluh dan keringat kami berharga untukmu.
Sekarang, tidurlah. Bersandarlah didadaku. Biarkan telingamu mendengarkan degup jantungku. Dan biarkan otakmu merangkai nada itu menjadi musik Mozart buaian tidurmu. Biarkan bau tubuhku menjadi aroma Lavender yang menenangkan syarafmu, dan biarkan ….. ah, engkau sudah tertidur rupanya.
Kepada
anak dan istriku – dua orang yang aku cintai.